Ngopi (di) Jakarta Vol.2: Awal Mula Jakarta, Manusia dan Sungai

Raden Dadang Supadma menyeka peluh saat mengantar kami melihat sebuah ruangan yang berisikan pusaka-pusaka leluhur. Ruangan yang bersebelahan dengan masjid itu menyimpan warisan-warisan dari penduduk kampung. Lain waktu ia berkeliling ke beberapa daerah hanya untuk mengklarifikasi orang yang diduga masih memiliki hubungan dengannya sebagia upaya mendokumentasikan silsilah keturunan kampung yang sangat ia cintai, Karadenan Kaum.

18 kilometer dari Karadenan, Yano Jonathans menyuguhkan pisang rebus sembari menunjukkan arsip-arsip Depok Lama berbahasa Belanda. Beberapa eksemplar buku “Depok Tempo Doeloe” nampak masih tersimpan rapi di lemari kamarnya. Belasan juta rupiah ia rogoh dari sakunya sendiri untuk menulis buku tersebut. Harapannnya sederhana saja agar Depok Lama tetap menjaga identitasnya sebagai bagian dari sejarah penting keberadaan 12 Marga Depok.

Dua sosok di atas merupakan inspirasi NgoJak dalam setiap kegiatan jelajahnya. Keduanya juga menghuni kawasan yang tak jauh dari tepian Sungai Ci Liwung. Sosok-sosok seperti ini berkarya dalam sunyi. Mereka bekerja tanpa embel-embel dan gelar pujian selangit. Padahal mereka layak mendapatkannya.

Seiring perjalanan NgoJak, sosok-sosok seperti Pak Dadang dan Pak Yano berhasil ditemui, sekaligus menyempurnakan sudut pandang dan teori amatir versi kami, bahwa Ci Liwung kerap menjadi ibu bagi lahirnya budaya-budaya dan peradaban di Jakarta.

Buku #NgoJak Vol.2 ini berusaha menghadirkan cerita bagaimana manusia dan sungai begitu memiliki interaksi yang kuat antara satu dan lainnya hingga melahirkan Jakarta hari ini.

Pesan bukunya di tautan berikut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *