Yang Fana Adalah Mantan, Kebaikan Abadi

Seorang kawan bertanya dalam sebuah kegiatan seminar, “Kamu beneran gak kenal sama Bapak itu? Dia tuh punya banyak aset properti, gelarnya udah Doktor, profilnya berberapa kali muncul di koran dan sering jadi pembicara deh setau gue di beberapa media televisi.”

“Oh iya? Hebat yak. Gue belum kenalan. Hehe.” saya jawab pakai tambahan cengengesan

Kata ‘hehe’ pada akhir kalimat saya coba analisis sendiri. Pertama [mungkin] semacam pernyataan bahwa saya kurang gaul sampai-sampai sinis dalam hati kalau tak mengakrabi media televisi di era sekarang itu adalah kesalahan fatal, yang kedua [mungkin lagi] adalah jawaban bahwa saya tidak peduli. Saya belum mengenalnya, dan tak tahu kebaikan apa yang pernah ia lakukan. Ini sarkastik.

Pram pernah menuliskan “pada dasarnya manusia adalah hewan yang paling membutuhkan ampun”. Belakangan saya jadi memunculkan teori suka-suka, bahwa sebelum pengampunan, mungkin manusia jauh lebih membutuhkan pengakuan. Sebuah eksistensi keberadaan di muka bumi pada setiap detik putaran roda peradaban –yang dimana ini telah menjadi polemik tak berujung, menghasilkan penafsiran yang terus berbenturan antar ulama dan peneliti sejak Darwin membuat keputusan bahwa nenek moyang manusia adalah seekor monyet hingga kemudian DNA Neanderthal berevolusi sedemikian rupa menjadi lebih beradab seperti saat ini.

Menurut situs Discovery News, fosil manusia purba Altamura Man yang ditemukan di Italia pada tahun 1993 meninggalkan eksistensi keberadaannya pada semesta ketika ditemukannya tulang belikat kanan pada rangka fosil sehingga paleoantropolog Fabio Di Vincenzo dapat mulai menyelami penemuan untuk melengkapi detail potret Neanderthal, seperti gen, bentuk anatomi, dan gaya hidup terdahulu. Seakan Neanderthal tak rela keberadaannya 150.000 tahun silam terdegradasi oleh waktu.

Kembali bicara menyoal pengakuan, apa tidak pilih-pilih untuk bilang si ini hebat, si anu luar biasa jika hanya melihat dari sisi berapa sering orang tersebut muncul di berbagai pemberitaan media, berapa banyak orang tersebut menghadiri suatu pentas menjadi pembicara, gelar berkepanjangan, atau harga kepemilikan yang tak berseri lagi nominalnya. Karena bagaimana nasib seorang masinis kereta commuter line yang menanggung keselamatan ribuan jiwa kaum urban untuk mondar-mandir dari satu stasiun menuju stasiun lainnya, sedari pagi hingga malam. Kemudian supir bajaj, pasukan ojek, yang membawa kita berpindah secara fleksibel untuk menghindari macet saat berkejaran dengan urusan genting. Para pedagang kaki lima penjaja jajan pasar di sepanjang jalan untuk menjamin tuntutan kebutuhan peradaban manusia yang paling mendasar, makan. Bahkan tukang reparasi jam pengganti baterai arloji agar kita tahu waktu dengan benar, juga para pelaku lainnya yang seringkali terabaikan oleh kita untuk sekadar mengucapkan terima kasih, dan biasanya mereka ini baru disorot ketika mengalami penggusuran, lebih parah lagi adalah hanya saat mengalami kecelakaan.

Setiap jiwa di dunia ini rasanya patut mendapatkan pengakuan ketika mereka mampu berbuat sesuatu walau-hanya-sebatas-pemenuhan-urusan-kehidupan-pribadi sejauh itu tidak menyulitkan orang lain, syukur-syukur bisa naik level sedikit yaitu menjadi bermanfaat bagi kehidupan makhluk lainnya. Tidak seperti mantan, kebaikan itu sifatnya abadi, dan rasanya kebaikan-kebaikan yang dilakukan dapat menjadi abadi dengan membiarkannya berada pada ruang vakum, senyap, tak bergaung, tanpa euforia. Ya, mungkin kita bisa mengabadikan kebaikan dengan cara melupakannya.

Leave a Reply