Wayang Orang, Upaya Bertahan Dalam Gerak Zaman

Menonton seni pertunjukan Wayang Orang Bharata, di tahun 2018, untuk generasi yang terlanjur akrab dengan label milenial dan sudah terlampau jauh dari budaya lawas adalah semacam ‘uji nyali’.

Karena nyatanya untuk menyaksikan satu pertunjukan, kita sungguh harus bertahan selama hampir 5 jam di gedung teater atau setara dengan menonton marathon 3 film di bioskop. Menonton wayang orang dalam bahasa yang kerap membuat roaming, hingga saya mesti membaca dengan seksama teks berjalan di bagian atas panggung, toh bukanlah pengalaman yang buruk-buruk amat dan tetap bisa membuat tertawa. Sesekali dapat mencerna bahasa yang dilontarkan, seperti saat punakawan melempar sindiran atau guyon kepada Abimanyu, atau saat membacakan amplop surat dari penonton yang menyelipkan sejumlah uang di dalamnya sambil meminta satu dua lagu untuk dinyanyikan bersama-sama.

Ada 200 tiket yang dijual setiap hari sabtu malam untuk pertunjukan yang dimulai pada pukul 20.00 WIB. Sejak gedung direnovasi oleh Pemprov DKI Jakarta, gelaran wayang orang hanya dilakukan seminggu sekali. Harga jual kursi paling mahal adalah sebesar Rp 60.000 untuk VIP -yang dekat sekali dengan para anggota seni karawitan, Rp 50.000 untuk kelas I, dan Rp 40.000 untuk kursi-kursi balkon. Atas alasan baru pertama kali menonton sekaligus ingin melihat siapa-siapa saja yang hadir, saya bersama dua orang kawan memilih bagian tengah baris pertama balkon. Menarik sekali melihat pedagang sate, nasgor, mie rebus, dan es kopi bisa mondar-mandir di dalam gedung demi mengantar makanan untuk penonton sampai ke pemain gamelan. Ya selain kami, penonton sisanya adalah para sepuh yang berdatangan untuk mengobati rindu, atau mengenalkan seni ini kepada anak cucu.

Saat keluar gedung, saat itu juga saya merasa harus membagikan cerita ini. Pekerja seni macam begini pada akhirnya hanya sekumpulan orang-orang yang merasa wajib untuk memelihara tradisi dan warisan turun temurun. Dari tuturan seorang perempuan yang merupakan bagian dari keluarga besar para artis pertunjukan, honor yang didapatkan pemain adalah sebesar Rp 30.000 per pementasan, padahal sejak Sabtu pagi mereka sudah harus datang untuk latihan akhir sebelum tampil. Dana suntikan sempat diberikan oleh Ahok pada saat menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta, sehingga tiap orang setidaknya bisa memperoleh honor 500 ribu rupiah per bulan waktu itu, namun sudah tidak ada lagi anggaran dana serupa pada tahun 2018 ini.

Wayang orang terus bergerak melintasi zaman, tak terhitung peran yang harus dilakoni dalam batas upaya untuk menjaga budaya. Namun kekhawatiran saya justru semakin menjadi saat menghadapi keadaan nyata dari hidup setiap pemainnya. Sampai kapan mereka memiliki keberanian untuk terus bertahan?

Leave a Reply