Penerbangan Senja

Pantulan suara bising deru roda pesawat yang menggilas cepat landasan pacu Bandara Internasional Don Mueang membangunkannya dari tidur kelelahan, semacam akumulasi penat akibat pekerjaan hari-hari sebelumnya. Seorang pramugari mengumumkan perbedaan waktu dan suhu udara di luar dalam dua bahasa, English dan Thai. Hal terakhir yang mampu diingatnya adalah lantunan lafadz kekaguman saat pesawat membelah langit bersemburat menawan dalam penerbangan Jakarta – Bangkok.

Seat 21 E, nomor kursi pesawat pada lembar boarding pass kelas ekonomi murah menyandingkannya dengan seorang pria asing, yang kalau ditafsir usianya mungkin berkisar di angka 40an, dan seorang perempuan muda keturunan Tionghoa.

Pria asing duduk di sebelah jendela, seat 21 F, praktis mengeluarkan sebuah buku dengan bahasa rumit tentang kehidupan kaum urban benua Asia. Dalam waktu sekian detik sebelum buku tertupi lengan, hanya mampu dilihatnya bagian buku yang menceritakan sinopsis dan beberapa endorsment para peneliti yang tampak cukup terkenal, tak berhasil menangkap judul buku yang dibaca oleh si pria asing.

Herannya, ini seperti dualisme, mengapa Ia begitu mampu memelihara rasa malas bertanya, tak minat memulai percakapan, sedangkan ketertarikan begitu jelas tergambar pada raut wajahnya, rasa ingin tahunya tertahan hingga garbarata terpasang sempurna di pintu pesawat, satu per satu penumpang turun, menyisakan dirinya dan beberapa pemuda di kursi belakang. Lagi, Dia tertegun, bagaimana mungkin Ia acuh tentang buku si pria asing, -yang judulnya masih juga tak mampu Dia temukan walau sudah memasukkan berbagai macam kemungkinan keyword sinopsis pada mesin pencari mahacerdas, Google, setibanya di terminal kedatangan. Mungkinkah rasa lelah membuat orang enggan berinteraksi, tapi toh sempat ditawarkan dengan ramah kepada perempuan berkulit kuning langsat di sisinya ketika sibuk mencari pena untuk mengisi dokumen kedatangan Imigrasi Thailand saat pesawat masih berada pada ketinggian. Atau memang itu perwujudan rasa iri dari keberhasilan si pria asing mendapatkan kursi incarannya dalam penerbangan senja, sebuah perjalanan untuk menemukan makna kesedihan dan kerinduan dalam hari-harinya yang senyap.

Bangkok, 2016

Leave a Reply