Pelukis Afriani : Antara Kebebasan dan Takdir Pemenang

Setiap melihat seorang perupa memproses sebuah karya, rasa iri tak terbendung selalu muncul dari benak yang paling jujur. Betapa apresiasi kebebasan telah melekat di diri mereka, sebenar-benarnya. Kemampuan mengejawantahkan pikiran, energi, hingga kritik sosial dalam bentuk yang indah.

Sebuah pertanyaan dari seorang kawan, mengapa saya tak lagi membuat sketsa, memaksa saya untuk kembali ke Pasar Seni Ancol. Karena niat awal untuk menemui Pak Priadji Kusnadi, pegiat seni siluet dan sketsa Blok C-26 di sore hari mesti tertunda hingga malam, akhirnya saya memutuskan untuk berputar ke tempat lain. Tak banyak seniman yang tinggal membuat karya di Sabtu sore itu, hanya satu dua yang terlihat membuat sketsa wajah, atau sekadar ngobrol santai di beranda.

Di dalam sebuah galeri, seorang wanita berjilbab asik menekuni kanvas, berhenti menyapukan kuas dan mempersilakan masuk ketika saya mencuri-curi perhatian ke dalam saat beliau sedang bekerja. Belakangan kami larut dalam pembicaraan menarik, wanita itu mulai menyalakan rokoknya. Perupa wanita yang saya ajak berbincang sore itu dikenal dengan sapaan Afriani, berdarah Minang dengan logat yang masih kental, nekat hijrah dari kota kelahiran menuju Jakarta setelah sempat singgah beberapa tahun di Batam sebagai buruh pabrik. Berbekal kemampuan otodidak, bukan bakat warisan kedua orang tua yang justru giat berdagang, Afriani memutuskan harus menjadi pelukis di Ibukota. Gang sempit di bilangan Kramat Sentiong sebagai batu loncatan, dan komunikasi sosial yang dilakukan selama beberapa bulan di sana mampu menghasilkan puluhan lukisan sarat makna tentang Jakarta. Jika saya yang sehari-hari hanya mampu menangkap momen dalam bentuk foto, Afriani menciptakan cerita jalanan, masyarakat, keresahan, dan jiwa metropolis Jakarta dengan sapuan cat minyak pada kanvas. Lukisan bertajuk Nomaden yang menggambarkan seorang Bapak menarik gerobak dengan tiga orang anak di atasnya persis mengingatkan saya pada istilah ‘manusia gerobak’. Afriani ingin menyampaikan dalam karyanya bahwa hidup di kota megapolitan seperti Jakarta tidaklah mudah seperti yang dibayangkan orang-orang yang melihatnya dari TV (sinetron). Apalagi bagi perantau yang membawa keluarganya dari kampung, dengan tujuan merubah nasib agar lebih baik dari sebelumnya. Jakarta adalah kota terbuka bagi pendatang, tapi Jakarta tidak bertanggungjawab akan kehidupan para pendatang (kaum urban).

“Kalau itu, Kak Afriani sedang mengapresiasikan diri sendiri untuk semangat mengejar mimpi ya?” tebak saya pada lukisan cat minyak surealis dua panel berukuran 300×150 cm yang terpampang jelas di tembok dalam galeri. “Ya, ini semacam keyakinan, bahwa setiap orang bisa mewujudkan keinginannya selama bekerja keras, judulnya Takdir Pemenang”, dan lukisan itulah yang menjadi tema pameran tunggal ketiga Afriani pada September 2015 lalu di Galeri 678 Jakarta, ‘Be The Winner’.

Saya dan Kak Afriani di depan lukisan yang diberi judul 'Absurd'.
Saya dan Kak Afriani di depan lukisan yang diberi judul ‘Absurd’.

Lukisan lah yang membawa langkah Afriani hingga menjadi seorang perupa terseleksi sejak sepuluh tahun silam di Pasar Seni, maka tak pernah tega baginya untuk menjajakan, menawarkan sana-sini sedemikian rupa karya-karyanya kepada calon pembeli. Jika pemenang adalah takdir, maka lukisan pun akan mempunyai jodohnya masing-masing. Hal penting lainnya yang terus terngiang di telinga saya dari sosok Afriani adalah saat beliau berujar, “Setiap pribadi adalah seniman, setiap orang adalah kreator. Novi tak usah cemas kalau tak berhasil melanjutkan cita-cita kebebasan menjadi pelukis, di bidang yang sekarang kan bisa saja menciptkan seni mengelola limbah yang baik misalnya”.

Dan pertemuan singkat dengan Afriani telah membawa saya untuk belajar menerima rasa iri, juga mempelajari arti kebebasan itu sendiri. Terlebih mencerna makna menjadi pemenang sekarang ini.

Jakarta, 2016

Leave a Reply