Opung dan Cuaca Jakarta

Setelah lama tak mendengar lagu Gereja Tua yang dilantunkan secara renyah oleh Panbers, akhirnya telinga kembali diakrabkan lagi dengan nada-nada nyaringnya lewat tape mobil milik Opung pada hari Jumat lalu. Mobil Toyota Kijang SGX tua Opung bergerak tersendat-sendat di Jalan MT Haryono karena lalu lintas ramai oleh pejalan kaki yang baru saja bubar dari Shalat Jumat. Opung bersenandung sambil sesekali mengisap rokok Dji Sam Soe yang sudah ia nyalakan sejak mobil kami memasuki daerah Tebet Dalam Raya.

“Kemana saja Kau, sibuk kali Aku tengok Kau beberapa bulan ini, sudah lupa nampaknya Kau dengan Opungmu ya! Ah, aku tak begitu suka dengan cuaca Jakarta macam begini, buat orang-orang jadi malas dan tak bergairah, badanku pun rasa-rasa jadi meriang!”, racaunya di tengah senandung dan kenikmatan mengisap batang rokok. Sontak saya melihat langit, “Hem mungkin waktu baru memihak lagi untuk kebersamaan kita, nah soal cuaca sih kurasa Jakarta lebih cocok dengan udara mendung tapi ragu hujan begini, orang-orang jadi lebih kalem berkendara, belum kita dengar suara klakson kan Pung?” sahut saya.

Opung yang memiliki nama depan Jonar dengan pembubuhan marga Manurung di bagian belakang identitasnya ini telah mentasbihkan saya sebagai cucu angkat di minggu pertama saat saya masih dalam status calon pegawai. Tahun ini Opung pensiun, setelah hampir tiga dekade lamanya beliau mendedikasikan diri terhadap perhelatan dunia sanitasi Kota Jakarta, berjibaku dengan bermacam-macam persoalan teknis, carut marut administrasi pemerintahan, hingga demo dan berbagai jenis ketidakpuasan warga Jakarta terhadap sistem pelayanan pengelolaan limbah domestik kota.

Di sela kesibukannya mengurai permasalahan sanitasi masyarakat Jakarta, Opung menjadi dosen bagi fakultas ekonomi salah satu universitas swasta di Jakarta, sekaligus berperan sebagai pengurus gereja merangkap pendeta dekat rumahnya. Maka tak heran setelah racauannya tentang cuaca Jakarta, kembali dia menanyakan pertanyaan-pertanyaan acak yang tak cukup sekali ia lontarkan tiap kali kami berbicara ringan sambil menikmati jalanan, seperti “Kau pikir, Tuhan sedang apa?”, atau “kalau dilahirkan ulang, Kau mau jadi apa?“, dan Jumat siang itu Opung telah siap dengan irama baru, “Kau suka hidupmu sekarang?” tanyanya kepada saya.

Saya terdiam, berapa adil saya menakar kesukaan dalam hidup, sedang tiap kesukaan senantiasa bersanding dengan kedukaan lainnya.

Berapa pun suka itu hadir, kadang kita tetap membenci hidup, bukan?

Namun tetap saja kita rela bernapas untuk memanjangkan durasi nyawa, dan pasti akan terlalu naïf jika mendadak kita ingin mati saja. Mati yang temporer, tentu saja.

Seringkali Tuhan menyapa dalam riuh atau jeda, kadang kita tetap membenci Tuhan, bukan?

Namun tetap saja kita menghujaninya dengan doa-doa sarat harapan ketika hidup terasa menjelma pengkhianat.

Rem mendadak Opung berhasil mengembalikan saya ke dunia nyata dari lamunan liar. Panbers masih bernyanyi nyaring, kali itu lagu Terlambat Sudah.

“Aku suka dengan hidupku sekarang Pung, masih banyak tugas untuk menyelesaikannya secara benar, sampai Tuhan bilang cukup suatu hari nanti” jawab saya dengan cengiran lebar. Rintik hujan pun turun dengan tertib, mendapati Opung dengan kemantapan niat untuk menyantap sup anjing sebagai menu makan malam nanti dengan istrinya, masih dalam rangka menghadapi keresahannya terhadap cuaca sendu Jakarta yang tak kunjung usai.

Leave a Reply