Menemui Ramadan, Membesarkan Tuhan

Pernah, dalam suatu percakapan bersama kawan, saya bertanya mengapa ia kerap menulis ‘tuhan’ tanpa huruf T besar pada saat ia menyebutkan dalam cerita-cerita yang dituliskan. Memang, agama yang diturunkan buat manusia oleh Tuhan sejatinya sudah besar, luhur, dan mulia. Namun manusia, ya termasuk saya, mungkin acapkali kelewatan dalam memaknai konsep yang mestinya sederhana. Termasuk dalam merayakan ibadah selama hari-hari Ramadan.

Didampingi pemahaman yang didapat dari pelajaran sejak kecil serta keyakinan kebanyakan, berpuasa akan membuat kita lebih peka terhadap penderitaan si miskin. Sobary dalam cerita ‘Kang Sejo Melihat Tuhan’ meminta saya untuk membayangkan, kalau kita puasa cuma buat ikut merasakan derita si miskin, tak perlukah lagi puasa bila negara sudah relatif makmur, di mana masalah kere dan gelandangan cuma soal sekunder macam di Australia, misalnya?

Ramadan ialah tamu yang dihadirkan, dan kita mempunyai pilihan sebebas-bebasnya, untuk memperlakukannya. Akankah saya menjadi pemenang yang berhasil akibat menunaikan puasa penuh dalam sebulan, mengkhatamkan juz demi juz Al-Quran kemudian mengulangnya kembali, karena tahu Ramadan yang didatangkan buat kita adalah istimewa. Hari-harinya penuh rahmat, ampunan, dan tentunya telah dijanjikan pula amalan yang akan dilipatgandakan oleh Tuhan.

Bagi saya, kedatangan Ramadan justru menghadirkan pergulatan antara ilmu dan laku. Saya khawatir ibadah yang saya lakukan menjadi bias, bukannya membesarkan Tuhan, saya malah membesarkan diri sendiri terhadap ibadah yang saya yakini sudah sempurna. Alih-alih Ramadhan justru menjadi tamu alakadarnya karena disambut dengan jamuan ibadah yang compang-camping lantaran kelewat sibuk menghadiri acara buka puasa bersama dimana-mana dengan dalih silaturahmi, shalat tarawih dengan kesibukan mengingat kehadiran tamu yang lain, lebaran, atau saya jadi banyak menolong orang ketika Ramadan, karena beranggapan saya akan menjadi lebih mulia dari yang saya tolong. Sedang manusia punya ego dan senang sekali terhadap pujian, yang keberadaannya sering membuat manusia untuk mencari lampu sorot, padahal kedua hal itu justru mampu menggerogoti dari dalam.

Di sini saya sudah menuliskan Tuhan, dengan sebenar-benarnya huruf T besar. Tetapi mungkin kawan saya benar, tanpa kita besar-besarkan pun Tuhan sudah besar dengan segala sesuatu yang dihadirkan. Maka kita sebagai manusia, seperti apa kiranya yang harus disiapkan secara bijaksana untuk menemui Ramadan terlepas dari membesar-besarkan setiap amalan diri yang nantinya dilakukan.

 

Jakarta,  menjelang Ramadhan 1437 H

Leave a Reply