Kita Sudah Tegar, Memang

Seringkali terhenyak waktu tersadar bahwa begitu banyaknya apa-apa yang sekuat tenaga dilakukan ternyata tidak cukup bagus untuk dibilang luar biasa.

Our best, sometimes isn’t good enough…

Seperti konser musik, mati-matian memainkan sebuah simfoni, nyatanya orang tak bertepuk tangan.

Sudah tegar memang, meski sedih itu mengalir sendiri bak peluh, tapi sudahlah tegar memang. Dulu sekali, pernah diajarkan bahwa semakin ikhlas terciptanya niat, maka semakin nyaman untuk berbuat. Semakin benar berencana, maka semakin mungkin kerja terlaksana sempurna, dan semakin pasrah, pada akhirnya semakin bisa menerima ending episode macam apa saja. 

Kita sudah tegar memang. Lalu mulai kapan tiba-tiba lupa?
“Tuhan, bimbinglah pelan-pelan”
Peluh hari-hari, jadikan itu untuk berbuat sebaik-baiknya yang masih bisa dilakukan, untuk jadi lebih baik tiap masanya. Meski ‘terbaik’ itu tak juga cukup luar biasa, tak apa.

Kemudian ketika segala sesuatu yang terjadi terlihat tak masuk akal dan kau mulai merasa tertekan, yakinlah Dia mampu menenangkanmu.

Leave a Reply