Bakteri Coliform dalam Segelas Kopi, Mungkinkah?

Segerombol anak kecil berusia sekolah berlarian menyeberangi jembatan, yang memisahkan dua kampung dengan mayoritas rumah berdinding tepas yang tampak berderet di kedua sisinya. Begitu melintasi gapura berwarna merah pada jalan masuk kampung, yaitu hasil dari sponsor perusahaan kopi lokal, terlihat berbagai macam aktivitas sederhana yang dilakukan warga. Mulai dari mencuci baju, memberi makan ayam atau bebek peliharaan yang berjumlah ala kadarnya, dan sebagian lainnya yang memilih sibuk memasak untuk dikonsumsi oleh keluarga atau dijual kembali pada usaha warung makan yang dimiliki.

Sebelum sebuah hotel berbintang lima yang berada tepat di sekitaran Tugu Tani dibangun, diperkirakan pada akhir tahun 1970an, pinggiran Ciliwung daerah Kwitang telah mulai dipadati pendatang dari Madura. Para perantau menetap bersisian dengan aliran Kali Ciliwung, membangun petak rumah berdinding kayu dan papan, beratap seng seadanya, kemudian membentuk komunitas kecil pedagang kopi yang berkeliling dengan sepeda, menyebar ke sudut-sudut jalan Ibukota. Hingga saat ini jumlahnya mencapai 250 KK, dan masuk ke dalam wilayah administratif Kelurahan Kwitang. Termos es, termos air panas, bertengger rapi pada kotak kayu atau keranjang plastik yang didesain sedemikian rupa di bagian setang dan jok belakang sepeda, menunggu untuk diisi kembali oleh bongkahan es yang telah dipecah-pecah dan air panas yang dimasak pada dandang besar. Selain sepeda yang diparkir di depan rumah masing-masing, puluhan lainnya berjajar di depan kios besar yang nantinya akan menyuplai gula, gelas plastik, juga berbagai macam merk kopi dan minuman sari buah siap seduh, melengkapi kebutuhan para pedagang sebelum diajak kembali berkeliling.

Seorang anak menenteng peralatan mandi dari dalam rumah, menuju bilik yang biasa digunakan untuk kegiatan mandi cuci. Posisi bilik berada di seberang rumah, dipisahkan oleh jalan kampung, bersebelahan dengan dapur yang memang juga terpisah dari bagian utama rumah, hingga dapat terlihat posisi bilik-bilik tersebut kebanyakan menjorok ke bagian pinggir kali yang telah dibeton. Keran-keran pada pipa mencucurkan air yang bersumber dari sumur bor dengan bantuan pompa untuk menyedot dari tanah. Air yang mengalir digunakan untuk mandi, mencuci, memasak, hingga bersuci sebelum beribadah. Hasil buangan aktivitas tersebut, yang kerap dikenal sebagai limbah cair domestik, dialirkan ke dalam pipa vertikal ke bawah yang langsung menuju ke aliran Kali Ciliwung, sedangkan buangan dari jamban masuk ke dalam tangki septik yang dibuat persis di bawah bilik mandi cuci tersebut.

PAM Jaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam kinerjanya terus berupaya melengkapi saluran perpipaan air bersih agar dapat melayani seratus persen (100%) warga Ibukota Jakarta, yang saat ini kurang lebih memiliki angka pelayanan di enam puluh persen (60%). Mengandalkan Waduk Jatiluhur sebagai sumber air baku dan sisanya membeli dari PDAM Tangerang, pada kenyataannya seluruh warga Jakarta harus bergantung serta berbagi pada kebaikan alam Provinsi Jawa Barat dan Banten. Tidak lebih dari lima persen (5%) air baku didapat dari sumber ‘kekayaan’ kota yaitu Kali Krukut dan Cengkareng Drain, seperti Sarana Penampungan Air (SPA) Cilandak yang di mana Instalasi Pengolahan Air (IPA) mengambil air baku yang berasal dari aliran Kali Krukut, itu pun dengan kerja keras karena harus mereduksi sampah dan polutan yang meningkat tajam setiap harinya. Sungguh ironis, mengingat Jakarta dilewati oleh tiga belas (13) sungai termasuk Ciliwung yang mengalir tepat di jantung Ibukota Jakarta.

Tahun 2016 lalu, Badan Pengawas Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melaporkan ada sebanyak 35.000.000 bakteri Coliform pada tiap 100 ml air di Ciliwung, padahal standar baku mutu lingkungan yang ditetapkan adalah 3.000 per 100 ml. Sekalipun sungai-sungai di Jakarta terbebas dari sampah padat, warga Jakarta mestinya tetap khawatir akan kandungan limbah cair domestik yang dihasilkan oleh penduduk kota, karena lebih dari setengahnya belum dikelola dengan benar dan dialirkan begitu saja ke badan air, membuat sungai-sungai ini jauh dari layak untuk digunakan sebagai sumber air baku. Tentu fakta ini turut ditanggung oleh kedua belas sungai lainnya, beberapa bahkan memiliki cemaran yang lebih parah ketimbang Ciliwung. Belum selesai sampai di situ, bakteri Coliform juga dinyatakan positif keberadaannya dalam air yang diambil dari tanah. Lebih dari sembilan puluh persen (90%) air tanah di Jakarta tercemar E.coli akibat rembesan dari tangki septik yang tak diatur jarak pemasangannya, sekali pun sudah diberi jarak tertentu. Tidak sedikit pula yang tangki septiknya bocor dan tidak dikelola dengan baik, merasa aman walau tidak disedot selama puluhan tahun.

Persoalan pengelolaan air dari hulu hingga ke hilir bukan hanya jadi urusan institusi, badan pemerintah, atau perusahaan yang mempunyai kewenangan untuk membangun infrastruktur, tapi merupakan pekerjaan rumah bersama. Bahwa kepedulian masyarakat terhadap keberlangsungan siklus air setelahnya juga sama-sama penting. Pada akhirnya, mungkin bukan hanya segelas kopi instan seduhan pada warkop pinggiran atau pedagang keliling yang patut dikhawatirkan, karena es kopi dari tiga gerai ternama asal Inggris yang terhampar di sekian banyak gedung mentereng Kota Jakarta pun baru-baru ini didapati tercemar bakteri fekal. Maka, bolehlah sepakat jika porsi tanggung jawab terhadap urusan air sepatutnya dimiliki oleh semua pihak tanpa pengecualian dan dipisah-pisahkan, apabila tidak ingin menghadapi kemungkinan-kemungkinan lain yang tentunya amat bisa terjadi.

 

~Jakarta, penghujung tahun 2017

Leave a Reply